Latest Posts
Bismillahirrahmanirrahim..

 

Assalamualaikum my lovable sisters.

I hope you're in a very good state and I hope you have high iman (faith). I want to tell you, don't ever be sad, because Allah is with you. This live is not worth with being sad, so you should always smile. Even sometime you feel upset, I also feel upset a lot of time Because I really just want to go home to Jannah..

And I want to listen to Quran And I want to read Quran all day. If you ever feel sad, you should go do sujud (prostration) and you should remember that you are from the Muslim ummah. That means, that everyone is making dua (prayer) for you, Including me.. So just keep your head high and be strong. Because.. Because after hardship is ease.. Just like Allah promised in the Quran.

When you feel sad, remember this life is just a test.. and soon it will be over and you'll be happy forever in Jannah. You won't be sad, and you get sweat and it comes out perfume on you. Everything that's meant to happen to you Allah wanted it to happen to you. So be happy for that, Don't be sad..

You're a Muslim and Allah loves you, so love Him back. I know I am just a girl, but please listen to me when I talk. When you go to Jannah, you won't even remember these times and something bad happens to you or you get hurt, Allah will take the bad things away.. Insha Allah you'll find your way, isn't it?


Sometimes Allah tests us with hardships but Allah tests the people that he loves so He loves you and I love you too so much.. I hope this made you happy, or at least it made you smile..

* Written from an inspiring Muslimah's audio. I love the words, it makes me smile ^^
Bismillahirrahmanirrahim..


Abi baru saja pulang dari Islamic Bookfair sore tadi, seru katanya, namun tak ada satu buku-pun yang ia beli, tak ada yang menarik baginya (kau tau, list buku yang dicari abiku hanyalah buku-buku sejarah klasik), ia hanya membawa katalog-katalog penerbit dan goodie bag serta merchandise Bookfair untukku, dari salah satu kawannya yang merupakan panitia pameran buku tersebut.

Aku semangat membaca beberapa majalah dan buku-buku yang ada di dalam goodie bag itu, ah, aku tiba-tiba tersadar, kapan ya terakhir kali aku memiliki semangat membaca seperti ini? Umm, entahlah.. jujur saja, dulu abi dan ummi tak pernah absen mengajakku ke pameran buku, bahkan sejak aku masih sekolah dasar, aku ingat sekali, setiap diajak ke pameran buku, aku begitu excited sekali, dan sepulangnya dari sana, aku ribut berceloteh dalam kereta saat pulang, bercerita ini-itu pada orangtuaku, atau aku langsung membuka buku yang ku beli dan mulai membaca sepanjang perjalanan.

Dulu aku cinta buku, tak ada oleh-oleh yang paling ku nanti setiap abi pulang selain buku (atau paling tidak majalah).

But, it has been long ago. Bila aku bercermin pada diriku sekarang, aku sadar aku berubah, kecintaanku pada buku semakin menipis seiring dengan bertambahnya umurku. Orangtuaku jarang mengajakku lagi ke pameran buku, bukan tanpa sebab, sekolah selalu mengadakan kunjungan ke pameran buku hampir setiap tahunnya sejak -kurang lebih- 2 tahun lalu, selera bacaku berubah, tak ada lagi yang membimbingku atau memberi saran buku apa yang harus ku beli, kini aku hanya membeli buku yang sesuai dengan seleraku, alhasil setelah selesai membacanya, aku menyesal. Rupanya pilihanku seringkali salah, aku telah mengambil buku-buku yang 'kurang berbobot'.

Aku rindu masa-masa itu, menghabiskan waktu di kamar membaca buku sampai sore, tanpa mengenal gadget, tanpa disibukkan oleh media sosial. Melihat buku-buku itu, seketika terbesit rasa rindu dalam diriku.

Buku itu jendela ilmu, maka sungguh, selama ini salah satu kesalahan terbesarku dalam menuntut ilmu adalah mencukupkan pikiranku dengan pengetahuan dari buku-buku sekolah saja.

Semoga saja, mulai saat ini tumbuh lagi kesungguhanku untuk mengarungi lautan ilmu, dan, aku harus meyakinkan diriku, bahwa buku jauh lebih menyenangkan dari film, hamasah!  \ ()

Well, apa yang harus kulakukan sekarang? Mulai membersihkan perpustakaan miniku yang entah sudah berapa banyak debu di sana, mungkin?

Bismillah.
Dan oh, aku juga lupa, kapan ya terakhir kali aku menulis?

Bogor, 2 maret 2016
Bismillah.


Aku baru saja menyelesaikan tontonan film berjudul ‘وسيّة أمي’ yang artinya : Wasiat Ibuku. Film ini bergenre (?) anime berbahasa arab, menurut abiku anime ini dibeli oleh Saudi dari Jepang, jadi di-dubbing berbahasa Arab dari Saudi, Wallahu A’lam.
Tapi judul asli anime ini setelah googling adalah Akachan To Boku (Baby and I).

Film yang durasinya berjumlah 5 jam dengan 5 episode ini menceritakan tentang kehidupan Sami bersama ayah, adik dan teman-temannya yang penuh lika-liku. Kisah ini dimulai dengan kabar kematian ibu Sami saat ia masih sekolah dasar dan meninggalkan seorang adik bayi bernama Wasim. Namun sebelum kematiannya, ibunya mewasiatkan kepada Sami untuk menjaga, merawat dan mendidik adiknya dengan tangannya dan agar ia bisa menjadi teladan yang baik bagi Wasim.

Menurutku, alur ceritanya sederhana, hanya tentang kehidupan Sami sepeninggal ibunya di rumah bersama adik dan ayahnya, serta di sekolah bersama teman-temannya, yaitu Salim, Hassan dan ‘Ala. Namun banyak hal-hal detail yang menarik, seperti, kedua teman Sami (Salim dan Hassan) memiliki adik yang seumuran dengan Wasim. Adik Salim bernama Ruwaida dan Walid, sedangkan adik Hassan bernama Jaad.

Film ini, keseluruhannya memberi teladan dalam hal pendidikan dan akhlak, serta penerapan syariat Islam dalam keseharian. Meski terkesan sudah biasa, tapi Masya Allah, film ini berjalan lembut dan perlahan, sehingga dapat merasuk pada perasaan. Ada saja adegan yang mampu membuatku tertawa atau menangis. Misalnya, saat Sami dan Wasim dititipkan seekor beo kecil yang dapat berkata, “Assalamualaikum”. Mereka berdua merawat beo itu dengan penuh perhatian, hingga suatu hari, saat waktunya mengajak bermain (dengan mengeluarkannya dari kandang), Wasim membuka pintu kandangnya tanpa sepengetahuan Sami, beo itu terbang keluar melalui jendela ruang tamu.

Sepulangnya Sami, karena ketakutan, Wasim-pun berbohong dengan mengatakan bahwa beo itu dicuri orang. Paman mereka berusaha membantu dengan membeli seekor beo yang mirip dengan sebelumnya, namun yang menjadi masalah adalah, beo baru ini tidak dapat mengucapkan salam.. ^^

Keesokan harinya, paman mereka menyerahkan beo baru itu, tapi pemiliknya mengetahui bahwa ia berbeda, hingga akhirnya Sami mengalah, ia mengatakan bahwa kesalahan terdapat padanya, beo itu hilang. Bagaimanapun ia tak dapat berbohong, ia tak tahu bagaimana yang sebenarnya terjadi, hingga saat matanya mulai berkaca-kaca, Wasim berkata, “saat itu jendela terbuka, dan ketika aku membuka pintu kandang, beo itu langsung terbang keluar.. aku minta maaf..” Wasimpun menangis.

Pemiliknya shock, ia jatuh tersungkur, dan tiba-tiba keajaiban terjadi, beo kecil itu terjatuh di hadapannya dan mengucapkan salam! Subhanallah. Saat itu juga, Sami amat bersyukur, selain karena beo itu telah kembali pada pemiliknya, tapi juga karena akhirnya Wasim menyesali perbuatannya dan mau berkata jujur.

Salah satu scene lainnya yang lucu adalah, saat Ruwaida mengompol di suatu malam karena ia tidak mematuhi nasihat kakaknya untuk ke kamar mandi sebelum tidur, maka malam itu ia terbangun lalu mengganti bajunya dan setelah pulang sekolah ia mengeringkan sendiri kasurnya dengan hair dryer tanpa di cuci. Kejadian itu ia alami selama 3 hari berturut-turut, namun pada hari ke-tiga Salim, Sami dan Wasim memergokinya karena mereka pulang lebih awal, Ruwaida kaget, terlebih saat ia melihat Wasim ikut memergokinya, Wasim hanya berkata, “itu najis, Ruwaida..”

Maka Salim memukul adiknya pelan dan menasihatinya setelah Ruwaida meminta maaf, “kenapa kamu melakukan ini? Tidakkah kamu tau bahwa malaikat tidak memasuki rumah yang ada najis di dalamnya?”

Sebenarnya ada banyak scene indah dalam film ini, tokoh-tokohnya secara tidak langsung mengajarkan bagaimana tugas, kewajiban serta contoh bagaimana seorang kakak yang baik, adik yang baik, guru yang baik, teman yang baik, ayah yang baik, ibu yang baik dan yang terpenting, muslim yang baik.

Diantara hikmah yang dapat kupetik dari beberapa dialog film ini yaitu,
1.   Segala sesuatu dimudahkan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Maka gunakan waktu luangmu untuk sesuatu yang bermanfaat untukmu. (Abu Salim)
2.   Seorang mukmin itu jika melakukan sesuatu, ia akan menyempurnakannya, kan? Aku bertanggung jawab atas apa yang telah kumulai, oleh karenanya tidak akan menyerah atau berhenti. (Sami)
3.   Aku tidak akan sembunyi ataupun menghindar, karena kalaupun kulakukan, itu hanya akan menyelamatkanku sesaat dan bukan berarti aku akan terbebas darinya di lain waktu. (Salim)
4.   ‘Kenapa aku harus selalu mengalah? Kenapa apa yang kumiliki harus kuberikan untuk Wasim dan perasaannya? Kenapa perasaanku tidak dianggap?’
‘jawabannya sederhana, karena kau adalah kakak laki-laki’‘lalu kenapa harus aku yang mengorbankan semuanya?’‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.. seolah-olah kau telah melupakan wasiat ibumu, Sami..’ (Abu Sami)

Intinya, banyak hal yang dapat kupelajari dari film ini, terutama tentang pendidikan dan akhlak. Karena kelak aku akan menjadi seorang kakak, teman, guru, istri dan tentu saja ibu, Insya Allah.

Sami dan Wasim

Diatas Iman kita tumbuh,
Diatas Akhlak kita terdidik,
Karena pendidikan yang baik menghasilkan warna yang indah,
Besok kita akan menjadi orangtua dan kita akan tahu tanggungjawab kita.

Bogor, 28 Agustus 2015

Sehari menjelang Ujian Formatif 1
Bismillahirrahmanirrahim..


Terinspirasi dari abi dengan Pustaka AMMA (toko online website dan facebook), berawal dari hobinya nulis, kemudian diseriuskan menjadi profesi, penulis.. tidak berhenti di sana, abi yang perfeksionis dan mandiri berusaha melakukan segala sesuatunya sendiri, benar-benar dimulai dari nol.. menulis di blog, pindah ke Microsoft Word, dilengkapi sedemikian rupa, menjadi editor, mengatur layout, bahkan membuat cover, akhirnya dicetak kemudian mendistribusikannya..
That's my father, a writer, an editor, a publisher, a distributor.. He is my inspiration.

Aku yang notabene introvert juga lebih suka mengerjakan segala sesuatu sendiri, mulai dari saat ia berupa gagasan sampai memvisualisasikannya di hadapan mata secara real.

Aku suka menulis, sejak kecil, sebagaimana yang pernah kutulis di sini. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai jarang menyentuh pena, jangankan menulis artikel atau blog, diary pun jarang, jadi aku tidak heran saatada seorang teman yang berceletuk, 'mana tulisannya?'.
He, maaf ya teman, alasan klasik -sibuk- itu terus memaksaku menghabiskan waktu untuk berkutat dengan berbagai tugas-tugas khidmah.

Eh ko' malah jadi nyambung ke sini, masya Allah.. yah, jadi meski menulis hobiku juga, aku memutuskan untuk tidak berkutat lebih jauh dengannya, aku lebih suka menulis bebas kapanpun aku mau, tanpa tuntutan ataupun deadline.
Adapun hobi lain yang justru menarikku adalah crafting yang sebenarnya jarang kukerjakan kecuali saat mood atau saat mempelajarinya. Awalnya aku bingung, jenis craft apa yang akan aku produksi?

Aku teringat tumpukan kain, flanel, gulungan benang rajut dan toples-toples mute di rumah. Kain? Sepertinya terlalu terburu-buru untuk memulai dari jahit-menjahit, apalagi baju. Flanel? Umm, sepertinya sedang tidak ada ide deh. Rajut? He, tidak ah, aku tidak ingin cantengan lagi. Mute? Nah, sepertinya yang ini menarik, tapi aku tidak begitu ingat polanya, terakhir bermain mute saat aku MTs. Oya kan ada umi Bulan, guru keterampilanku saat MTs, nanti aku coba deh konsultasi dengan beliau.
Aku sharing pada Naura, sahabatku. Dia lebih dahulu menyeriusi bidang craft ini dengan berjualan rajutan. Katanya, jualan craft itu gampang-gampang susah, gampang ngejalaninnya karena kita suka, tapi susah untuk mencari pasarnya, awalnya kupikir semua orang menyukai kreasi handmade, Kalau suka saja ya mungkin, tapi untuk membelinya, mereka lebih suka produk buatan pabrik.

Aku ceritakan proyek muteku, aku ingin membuat tas yang akan kupakai sendiri, ia mendukungku, bahkan ingin ikutan juga membuat tas (dari rajutan) untuk dirinya sendiri, selama ini dia buat hanya untuk orang lain saja. Oya dia juga ingin ikut berjualan craft nya di internet bersamaku (sebelum ini kami pernah merencanakannya juga tapi gagal, heu..).
Baiklah, syukron naura untuk sharingnya.

Kemudian aku beralih ke umi Bulan, pendapat beliau tidak jauh berbeda dengan pendapat naura. Beliau cerita, ada temannya yang berjualan kreasi mute, kemudian ditinggalkan karena tidak ada pasarnya.

Aih masya Allah, sedih sekali.. kenapa orang Indonesia sulit menghargai sebuah kreasi handmade? Mendukung industri kreatif? Mencintai produk asli Indonesia? Mereka lebih suka buatan pabrik terlebih import dari luar negeri.

Tetiba teringat umi Sasa yang juga hobi membuat bunga dari manik-manik namun tidak tahu kemana harus memasarkannya..
Wah sayang sekali ya.. Padahal hasil karyanya sudah layak jual..

Salah satu produk kami : Najma

Cling! Tiba-tiba terbesit ide untuk membantu para crafter memasarkan produk craft nya.. aku juga jadi tidak sibuk membuat, aku hanya akan menjual saja..

Aku mulai membuat halaman facebook dan website untuk toko kreasi kecilku. Kuberi nama 'Kreasi AMMA'. Kenapa AMMA? Tidak mau ribet, langsung saja aku tentukan demikian karena itu juga merupakan nama penerbit abiku.

Awalnya hanya kreasi mute buatanku dan buatan umi sasa, sampai kemudian Allah mempertemukanku dengan umi Kholis yang ahli kreasi daur ulang kemasan kopi, koleksi toko kecil kamipun bertambah.

Terakhir, aku bertemu dengan umi Titin yang mahir merajut, tapi masih berstatus hiatus dari kegiatan itu karena sudah sibuk setelah memiliki anak, namun beliau bersedia melanjutkan kembali apabila memang aku tertarik.

Karena kebetulan saat ini aku masih dalam kewajiban khidmah, aku memutuskan menutup Kreasi AMMA online dahulu sampai aku lulus, namun tetap berjalan via offline kok.
Lalu kenapa aku realisasikan begitu cepat toko online nya? He, maafkan.. saat itu kuantitas semangatku melebihi rata-rata, jadilah ia meluber dan hasilnya kulakukan apa yang bisa kulakukan sekarang.

Oya bahkan saat itu aku juga sedang hobi-hobinya mengobservasi pasar craft online, hasilnya membuatku optimis karena ternyata masih banyak orang yang mengapresiasi hasil kreasi tangan di zaman yang serba modern ini, namun sayangnya kebanyakan mereka dari luar negeri, ya ada sih orang Indonesia, tapi hanya segelintir saja.
Oleh karenanya saat itu juga terbesit dalam pikiranku, 'kalau gitu aku harus bisa menawarkan produk Indonesia ke luar, mereka harus melihat karya tangan Indonesia yang begitu kreatif'. Karena jujur saja, hasil karya mereka banyak yang mainstream, easy to do it by yourself dan banyak tutorial, tapi harganya lumayan, bahkan ada beberapa kreasi kecil yang harganya diatas 5$ setara dengan hasil karya anak-anak MTs di sini. Bukannya merendahkan, justru aku kagum, betapa tingginya apresiasi atas karya-karya limited edition mereka, padahal kalau di sini, kreasi yang sama bisa jadi harganya di bawah 5.000 rupiah.

Begitulah analisisku. Kuharap aku salah. Semoga ternyata diluar sana (di Indonesia) masih banyak orang-orang yang menghargai hasil kerajinan tangan yang dibuat dengan penuh cinta dan kecermatan di setiap sentinya.
Insya Allah.

Jadi mulai sekarang, yuk biasakan untuk mencintai produk Indonesia


Kreasi AMMA

We sell creative goods all over the internet. Welcome to our shop, we hope you enjoy our products. Thank You.
Kami menjual berbagai macam kreasi cantik buatan tangan (handmade). Selamat datang di Kreasi AMMA, kami harap anda puas dengan produk kami. Terima kasih.

Bismillah.

Postcards I've sent

It has been a long time since my last postcrossing swap, officially or even directly. I've write about it here.

Actually there are some reasons why I pause this very fun activity (and hobby too). The most important one is because since last year I have to start teaching in my school for a year before my graduation as a dedication for our school, so I will stay in school's dorm (fyi most of Indonesian Islamic school's system is boarding school), that means I can't use my smartphone there, because we are forbidden to use that (exception for a teacher who didn't graduate like us, we can bring a monochrome phone, a phone which can used just for calling and sending messages) and yah, so how can I active in postcrossing then?

The other reason is, the high cost, he.. (
). For the first time I think it's cheap to send a card to Europe for under 10.000 rupiah, but after some months, my money start runing out, I ever send more than 10 postcards in a month (that's more 100.000 rupiah). So I decided to start saving my money and pause this hobby for a while. 
And so on. There are some other mainstream reasons : busy, wasting time, far post office, etc..

So I stop it at all.

Until..
One day, I tell my students in 8 D class (it's 2nd grade of junior high school) my story that I have some friends from foreign countries around the world by penpalling or postcrossing, so they are curious, most of them never see how a postcard is, then I bring my postcards and I show them. They are amazed, so I give them some of the postcards from my friends from various countries around the world.

They are interested to get one with their name on it. I am confuse there, I've lost many of my postcrossing friends. But Alhamdulillah I still a member in a postcrossing and swap group.

One of my students write a postcard

Okay I will help them and make this as a class project. I want them to feel happy as I felt years ago when my first card arrived. 
When I go home in holiday, I start contact the other members of postcrossing group, Thank Allah some of them interested to swap with my students. Actually I don't get the swap partners for all of them. There are 28 members in 8 D class, but I just get for 21 of them.

After that I find some online shop which offer cheap postcards, and I get Posnesia, they have lots of beautiful cards. I show them it's catalogue and they choose some cards they like, and we order it.
Days ago, the cards arrived. But our class had plan for Wednesday's night, language activity (we perform speech, storytelling, drama and poem in 3 languages :  Bahasa, English and Arabic), so we can't write the cards that time.

A day after the language activity (it's today when I write this), we write the cards together, stick the stamps and some stickers.
I take some of their candid photo, hehe.. (*^ω^*)
Masha Allah, they enjoy doing it and when I see their face, I know they are happy and I glad to know it. Some of them said that this was their first time writing letter and it's fun! They can't wait to send the cards and receive it from their swap partners soon Insha Allah.
Happiness is simple.


Post office, cards or letter may be not as famous as before nowadays, but I believe that it won't be forgotten because there will be some people who still love it, love to write, send and receive a surprise even it's just a card.

Modernity is not bad of course, it help us by facilitating people do something easily, like in a communication. But remember, that modern communication facility can bring something far close but it usually bring something close far too.

Well that's all my report about 8 D's Postcrossing Project, it reminds me about my hobby years ago and maybe I will start doing it again after my graduation (in May Insha Allah), who knows?

And to all of you who read this article, I recommend you to try this fun activity too.

Sent today, hope they arrived safely ^^

Happy postcrossing!


Based on true story.
Bismillahirrahmanirrahim.

Semenjak malam itu, waktu terasa lama sekali berputarnya, sang putri masih berduka, air matanya masih juga belum berhenti mengalir, adapun sang pangeran masih tetap berusaha menghiburnya, meminta maaf berkali-kali. Disadari atau tidak, setiap ucapan maaf dan hiburannya itu sedikit demi sedikit mulai memperbaiki kembali kepingan hati yang telah hancur merapuh itu, bagaikan puzzle yang satu per satu saling melengkapi hingga lengkap seutuhnya, tak sesempurna sebelumnya memang, tapi paling tidak, ada sepotong hati yang baru di sana.

Saat tatanan hati itu telah utuh, sang puteri mulai membuka hatinya, memberikan secercah harapan bagi cintanya bersama sang pangeran, membangun lagi kenangan yang sekejap terhapus begitu saja, ia sadar ada yang harus ia lakukan, diam saja tidak akan mengubah apapun, namun sebuah tindakan dapat menentukan masa depan pernikahannya.

Lupakan sekejap dongeng-dongeng percintaan yang melodramatis itu, sungguh saat ini sang puteri memiliki sebuah alasan yang lebih dari cukup untuk memutuskan mitsqalan ghalidza yang telah mereka genggam bersama selama kurang lebih 6 tahun ini, perceraian. Bagaimana tidak, ini tentang perselingkuhan, kawan.. sebuah hubungan haram yang dilakukan oleh seorang pangeran yang telah mendapat cinta dan kepercayaan seorang puteri shalihah seutuhnya. Ini jauh lebih menyakitkan daripada apabila sang pangeran menikah lagi, menjalani hubungan cinta yang halal dengan wanita lain, maka sang puteri akan ridha menerimanya, meski disertai linangan air mata.

Namun dengan bijak sang puteri menyadari bahwa hidupnya bukan dongeng, sekalipun hidup ini cerita, ia tak ingin kisah cintanya berakhir tragis seperti dongeng-dongeng itu. Perceraian? Pikiran itu mungkin pernah terbesit dalam jiwanya yang saat itu sedang kalut, akan tetapi saat ia menatap si mujahid kecil, gagasan itu terhapus sempurna, ada banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan dan didahulukan, masa depan dan kondisi psikologis si mujahid kecil, nama baik orang tua dan keluarga besarnya, hubungan pertemanannya dengan Raisa, dan perasaan sang pangeran. Pangeran yang saat pertama ia berjumpa, ada harapan agar ialah pengeran pangeran pertama dan terakhir yang akan terpatri di hatinya, selamanya.

Sang puteri memaafkan sang pangeran.

Ia tulus, benar-benar tulus melepas kekhawatiran yang membebani jiwanya, ia mengesampingkan egonya untuk perkara yang jauh lebih penting, Insya Allah. Ia memutuskan untuk kembali membuka lembaran baru dalam hidupnya. Sang pangeran berbinar, Masya Allah, Maha Suci Rabb yang telah menitipkan sesosok bidadari tanpa sayap yang begitu setia di sisinya. Maka ia menyesal, teramat menyesal telah mencampakkannya.

Aku mengenalnya melalui facebook, aku tahu ia sudah menikah namun ia wanita yang baik, hafidzah dan lulusan pesantren ternama, kami mulai berhubungan lebih akrab melalui pesan pribadi, setan menghasut kami setiap hari, setan menghiasi dirinya dalam pikiranku membuatku menganggapnya lebih cantik dari dirimu, kekhilafanku yang terbesar adalah saat aku memutuskan ingin menikahinya hingga ia berani meminta khulu’ dari suaminya dan bercerai. Saat itu tiba-tiba Allah menyadarkanku, Allah menghadirkan sosokmu dan si mujahid kecil dalam hatiku, ia tidak sebaik yang kukira, ia tidak sebaik dirimu, semua bayangan indah yang setan hiasi lenyap seketika, wanita yang tidak setia pada suaminya tidak akan setia pula padaku, aku menyesal. Aku salah. Aku khilaf. Maafkan aku.., demikian penjelasan sang pangeran.

Aku mengerti, sayang.. Tenang saja, aku memaafkanmu.. bahkan jauh sebelum engkau mengucapkan kata maaf itu.. Karena aku tidak ingin ada yang tersakiti dalam cerita cintaku. Sungguh Maha Suci Rabb yang telah menitipkan sekeping cinta yang tak begitu kokoh dalam hatiku untukmu, semburat rona kemerahan muncul di pipi sang puteri, ia tersenyum tulus,

Apakah engkau mencintaiku?

Eh? Apa maksudnya? Tentu saja..

Aku sangat mencintaimu..

Lebih..

Lebih, lebih, lebih.. aku menang. Kini engkau tidak bisa mengalahkan cintaku padamu..

Hahaha.., sang puteri tertawa lepas,

Adapun sang pangeran terdiam, ia bahagia sekali dapat kembali menatap teduhnya wajah ceria itu, senyum dan tawanya yang begitu ia rindukan.. Masya Allah, Tabarakallah.. kini luka itu telah sempurna tertutup, keadaan telah membaik, semua akan kembali seperti semula, Insya Allah.

Sang pangeran berbisik dalam hati, ya Allah, jagalah ia untukku.
Ucapan itu seketika menembus langit tanpa batasan bagaikan anak panah yang melesat bersama satu simbol : Amin!

And become us 


Kau tau? Perjalanan hidup manusia bak sebuah buku, sampul depan kelahiran dan sampul belakang adalah kematian. Adapun lembaran-lembaran di dalamnya adalah hari-hari yang telah, sedang dan akan dilalui.. seburuk dan sekusut apapun lembaran yang telah berlalu, selalu ada lembar baru yang masih kosong untuk diisi, memperbaiki dan mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi kemarin agar lebih baik di kemudian hari.

Tidak ada kata terlambat. Kita tidak mungkin lepas dari dosa, bukankah manusia memang tempatnya salah dan lupa? Namun yang menjadi tugas kita adalah menghindari episode-episode pembangkangan yang berkelanjutan.. kewajiban kita adalah terus memperbaiki diri setiap saat, itulah saat yang tepat untuk dapat dikatakan ‘dalam rangka’ beribadah.

Setiap kesulitan pasti diikuti oleh kemudahan, itu janji Allah. Tinggal bagaimana kita, seberapa percaya dan berbaik sangka kita pada-Nya.. Bukankah Ia dalam persangkaan hamba-Nya?

Segala sesuatu memiliki 2 sisi berlawan seperti koin, ada sisi baik dan ada sisi buruk, semua tergantung dengan seberapa bijak kita dalam memanfaatkannya.. pun media sosial, boleh jadi kita mengambil himah darinya, dan boleh jadi pula kita terjerumus dalam fitnah di dalamnya.. maka berhati-hatilah menjaga hati, kita makhluk yang selalu lupa namun setan –yang sejatinya musuh kita- tidak pernah lupa, ia dan nenek moyangnya telah begitu berpengalaman ribuan tahun menggoda manusia, mengajak manusia untuk ikut menemaninya di Jahannam, Naudzubillah..

Maka berbuat adillah, saudariku.. tempatkan sesuatu pada tempatnya, ambil yang bermanfaat dan tinggalkan yang ber-mudharat.. bertakwalah di manapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan dan pergauli manusia dengan pekerti yang baik.

Milikilah hati yang cantik, tak peduli apakah orang lain menyadari kecantikan itu atau tidak, yang jelas kecantikan seperti inilah yang akan abadi, tak akan lekang di makan zaman, insya Allah.

Look back and thank Allah.
Look forward and trust Allah.
Allah closes the door that no one can open.
Allah opens the door that no one can close.


Wallahu A’lam.
Selesai.